Jumat, 04 Juli 2014

Accounting Conference In Accounting Fair Universitas Bakrie 2014





Seminar yang saya ikuti kali ini adalah seminar tentang Integrated Reporting yang dilaksanakan pada Accounting Fair Universitas Bakrie pada tanggal 5 Maret 2014 yang diadakan di Universitas Bakrie yang mengusung tema besar “Implementing Integrated Reporting to Support Indonesia Sustainable Development”.
Acara kali ini diawali dengan acara Accounting Conference yang mengambil subtema “Integrated Reporting: Contribution Towards a More Financial Stable Global Economy and Connection to Local Community”. Accounting Conference dilaksanakan di Kampus Universitas Bakrie dan dibagi atas dua sesi, sesi pertama diisi oleh Ali Darwin , Ak. M. Sc (Executive Director NCSR) dan sesi kedua diisi oleh dua pembicara yaitu Rahmad Dianoor S.E (Head of Financial PT. Energi Mega Persada Tbk.) dan Ni Made Ria Astuti, S.E. M. Sc. Ak, CA. (Ikatan Akuntan Indonesia).
tema Accounting Conference pada kali ini adalah Integrated Reporting untuk memperkenalkan kepada masyarakat pada umumnya dan civitas akademik seperti mahasiswa. Diharapkan perkenalan ini mampu menimbulkan kesadaran untuk menerapkan sistem integrated reporting pada perusahaan-perusahaan di Indonesia. Faktanya adalah baru sekitar 50 perusahaan yang menerapkan integrated reporting sebagai laporannya.
Integrated reporting itu sendiri merupakan salah satu dari laporan akuntansi yang mengharuskan perusahaan tidak hanya memperhatikan laporan keuangan tetapi juga harus memperhatikan bumi dan manusia, misalnya perusahaan tersebuat adalah sebuah produsen kertas yang memerlukan pohon untuk bahan bakunya, untuk membuat kertas perusahaan tersebut harus menebang pohon tetapi perusahaan tersebut haruslah memanamnya kembali atau pohon tersebut termasuk pohon industri sehingga bisa terus berkelanjutan tanpa harus merusak bumi. berkelanjutan disini dalam arti semakin kedepan semakin ramah lingkungan, di indonesia hanya 50 perusahaan yang menerapkan Sustanable Reporting.

Ini adalah Evolusi Pelaporan Perusahaan

Finansial Reporting --> Management Reporting --> Green Reporting --> Sustainability Report --> Integrated reporting


Accounting Fair Universitas Bakrie 2014 terselenggara dengan sukses berkat dukungan dari On that Point dan Ikatan Akuntan Indonesia serta bekerja sama dengan berbagai sponsor, yaitu Pertamina, Energi Mega Persada, CPS soft, Kangean Energy Indonesia, Standard pen, Lovetory, Indosat, Joko catering, Decokelat Rich,  dan Crush Kit. Selain itu, Accounting Fair Universitas Bakrie 2014 juga bekerja sama dengan media partner seperti Merdeka.com, Bisnis Indonesia, Hai, Seputar Kampus, Komunitas Jago Akuntansi Indonesia, Young On Top, SMA Punya Acara, B-Voice, AboutJKT, Yess! Magz, AnakUI.com, RITMA, dan KabarKampus.com.

Selasa, 01 Juli 2014

Seperti Inilah Surat Anak SD Nembak Cewe



Ini Transletnya :

Dear Jessika,

Aku punya beberapa pertanyaan
1.      Apakah terlalu awal untuk kita berpegangan tangan ?
2.      Apakah aku sudah pantas untuk dipanggil “sayang” ?
3.      Beri tahu aku kalau aku terlalu terburu-buru ya ?*

Terima kasih jika mengatakan “ya”. Biasanya aku mendapatkan jawaban seperti “tidak, terima kasih”, “apa kamu bodoh?”, dan kadang aku terlalu malu untuk menembak cewek.

Penuh cinta,

Jonathan

Aku belum punya teman wanita yang banyak, jadi tolong katakan padaku apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan dalam hal ini, kumohon.

Ada-ada saja kalo masih kecil, semua seperti hal bodoh ketika kita mengingat masa kecil kita, kita juga pasti akan tertawa sendiri ketika kita mengingatnya.

Sumber :

Kebijakan Konversi BBM ke BBG



Kebijakan pemerintah untuk mengurangi penggunaan BBM yang setiap tahunnya meningkat dan borosnya anggaran pemerintah untuk mensubsidi BBM tiap tahunnya sekaligus untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup terutama di kota-kota besar, sedangkan produksi minyak dalam negeri kurang mencukupi untuk kebutuhan dalam negeri sehingga harus mengimpor dari negara-negara lain, oleh karena itu pemerintah mengeluarkan kebijakan konversi BBM ke BBG karena jumlah gas bumi di indonesia sangatlah melimpah, sehingga bisa dimanfaatkan untuk mengganti penggunaan BBM, Bahan Bakar Gas (BBG) disebutkan merupakan alternatif yang dipilih karena ramah lingkungan dan tersedia di dalam negeri, meskipun begitu jalannya kebijakan tersebut tidaklah mulus dikarenakan banyaknya hambatan untuk menjalankan kebijakan tersebut, seperti artikel yang saya dapat ini banyaknya hambatan-hambatan pada kebijakan tersebut seperti :
·      Pemerintah kesulitan menyediakan konverter kit untuk transportasi, dalam program pengalihan penggunaan Bahan Bakar Minyak BBM ke Bahan Bakar Gas BBG.
·       Bengkel untuk memasang dan merawat alat konversi BBG itu masih terbatas.
·       Masalah sarana dan prasarana yang belum siap.
·   Kebijakan percepatan konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke bahan Bakar Gas (BBG) sepertinya jalan di tempat. Pemerintah dan pengusaha terkesan saling menunggu.
·        Program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) berjalan lambat.
Seperti yang saya kutip dari suatu sumber menyebutkan bahwa :
Menurut pengamat energi Reforminer Institute Komaidi Notonegoro, ada tiga faktor utama yang membuat program konvensi BBM ke BBG di Indonesia berjalan lambat.
·      Tidak adanya rancangan kebijakan konvensi BBG yang jelas dan detail.
·       Lemahnya komitmen pemerintah dalam melaksanakan kebijakan.
·       Mahalnya biaya untuk melakukan program konversi dan belum ekonomisnya harga jual gas ke konsumen.
Oleh sebab itu semua pihak harus ikut menyukseskan program tersebut. sebut saja pertamina,  PT Pertamina (Persero) siap menyukseskan program konversi BBM ke gas alam pada transportasi jalan yang akan mulai digencarkan pada tahun ini. Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan bahwa “berdasarkan Perpres No.64/2012 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga Bahan Bakar Gas Untuk Transportasi Jalan, pemerintah telah menugaskan Pertamina untuk melakukan penyediaan dan pendistribusian Bahan Bakar Gas berupa CNG (compressed natural gas). Dengan ketetapan ini” tuturnya. Pertamina, dengan dukungan pemerintah siap menyukseskan program konversi BBM ke BBG untuk transportasi jalan yang akan digencarkan mulai tahun ini.
Dalam hal ini semua pihak harus ikut menyukseskan program tersebut. Saya berpendapat bahwa pemerintah harus membangun semua sarana dan prasarana untuk mendukung dan mempermudah jalannya penggunaan BBG agar berjalan dengan lancar tanpa adanya kendala, pemerintah juga harus memberikan dana untuk para pemegang tender atau bengkel pembuatan konverter untuk menggenjot produksinya.

Sumber :

Program Pada Era SBY Yang Cukup Sukses



Seperti yang kita ketahui banyak program pro-rakyat pada era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono yang dinilai cukup sukses, seperti program untuk meningkatkan usaha kecil menengah (UKM) dan untuk mengurangi jumlah kemiskinan di indonesia yaitu dengan kredit usaha rakyat (KUR). Tujuan intinya hanya satu yaitu memandirikan masyarakat Indonesia dengan mengandalkan kreativitas yang dimiliki.
Kredit Usaha Rakyat adalah program kredit  yang disalurkan menggunakan pola penjaminan dan kredit ini diperuntukkan bagi pengusaha mikro dan kecil yang tidak memiliki agunan tetapi memiliki usaha yang layak dibiayai bank. Pemerintah mensubsidi Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan tujuan memberdayakan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang ada di Indonesia. Menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah masyarakat miskin di Indonesia saat ini mencapai 28,07 juta jiwa. Angka ini cukup besar dan tidak bisa diremehkan keberadaannya. Inilah beban yang ditanggung Pemerintah dalam tahap mensejahterakan rakyat.
Dalam rangka pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi (UMKMK), penciptaan lapangan kerja, dan penanggulangan kemiskinan, Pemerintah menerbitkan Paket Kebijakan yang bertujuan meningkatkan Sektor Riil dan memberdayakan UKMK. Kebijakan pengembangan dan pemberdayaan UMKMK mencakup:
·         Peningkatan akses pada sumber pembiayaan
·         Pengembangan kewirausahan
·         Peningkatan pasar produk UMKMK
·         Reformasi regulasi UMKMK
Upaya peningkatan akses pada sumber pembiayaan antara lain dilakukan dengan memberikan penjaminan kredit bagi UMKMK melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pada tanggal 5 November 2007, Presiden meluncurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR), dengan fasilitas penjaminan kredit dari Pemerintah melalui PT Askrindo dan Perum Jamkrindo. Adapun Bank Pelaksana yang menyalurkan KUR ini adalah Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BTN, Bank Syariah Mandiri, dan Bank Bukopin.
Usaha Kecil, dan Menengah (UKM) memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Karena dengan UKM ini, pengangguran akibat angkatan kerja yang tidak terserap dalam dunia kerja menjadi berkurang. Sektor UKM telah dipromosikan dan dijadikan sebagai agenda utama pembangunan ekonomi Indonesia. Sektor UKM telah terbukti tangguh, ketika terjadi Krisis Ekonomi 1998, hanya sektor UKM yang bertahan dari kolapsnya ekonomi, sementara sektor yang lebih besar justru tumbang oleh krisis. Oleh karena itu peran UKM sangatlah penting bagi perekonomian indonesia sehingga pemerintah mendorong para UKM ini untuk terus berkreativitas dengan mengeluarkannya program KUR agar para pelaku UKM lebih mudah mendapatkan dana untuk usahanya.
Sumber :